PINDAH RUMAH

well..cuman mau memberi pengumuman :

SECARA RESMI TERHITUNG MULAI HARI INI (JUMA'T) TANGGAL DUA PULUH DUA BULAN JUNI TAHUN DUA RIBU TUJUH, SAYA SYAIFUL SELANJUTNYA DISEBUT PIHAK PERTAMA, KARENA SATU DAN LAIN HAL, TELAH RESMI BERPINDAH LOKASI BLOG DARI SEBELUMNYA: http://piung.blogs.friendster.com/ipul/ KE BLOG BARU DI: http://love-and-trust.blogspot.com/ . ATAS PERHATIAN DAN KERJASAMANYA SELAMA INI, PIHAK PERTAMA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH. SEKALIGUS PIHAK PERTAMA JUGA MENGUNDANG SECARA HORMAT KEPADA SELURUH TEMAN-TEMAN DAN PENGUNJUNG BLOG INI UNTUK BERKUNJUNG KE BLOG YANG BARU SAMBIL TIDAK LUPA MENINGGALKAN PESAN.

TERIMA KASIH.

HORMAT SAYA,

SYAIFUL.

                            

MONEY CAN’T BUY ME LOVE

Seminggu telah lewat dari tanggal terakhir aku mem-posting tulisan di Blog ini, selain karena long weekend kemarin yang lumayan menyita waktu dan tenaga, aku juga disibukkan dengan beberapa kerjaan sampingan yang juga harus membuat aku merelakan hilangnya beberapa jam dari waktu tidur malam aku.

 

Hari senin lalu aku sempat membeli buku kecil berisi kumpulan 8 kisah nyata yang dirangkum majalah INTISARI dan diberi judul “ Titip umur di penjara ALCATRAZ ”, sampai sekarang aku belum sempat menamatkan buku itu, tapi ada satu cerita yang rasanya sangat menyentuh bagi aku.

 

Kisah ini tentang kehidupan Christina Onassis, anak dari Aristotle Onassis si raja kapal dari Yunani. Christina lahir sebagai anak kedua dari pasangan Aristotle Onassis dan Tina Onassis di tahun 1950. sebagai anak salah satu orang terkaya di dunia Christina tumbuh menjadi anak yang selalu dibanjiri materi. Bisa dibayangkan bagaimana kayanya keluarga mereka bila mengetahui boneka mainan Christina kecil saat itu memakai baju-baju hasil rancangan Dior. Orang tua yang sibuk dengan ambisi mengumpulkan harta, memantapkan kekuasaan dan meraih popularitas kemudian membuat Christina dan kakaknya Alexander tumbuh sebagai anak yang kaya materi namun miskin kasih sayang. Benar bahwa mereka sangat terawat, berpakaian mahal, dengan segudang mainan yang mahal, namun sesungguhnya keinginan mereka sederhana saja, ingin disayangi dan diperhatikan orang tuanya. Sang ayah, Aristotle Onassis beranggapan bahwa dengan uangnya yang berlimpah dia dapat “membelikan” kasih sayang buat kedua anaknya.

 

Anak-anak keluarga Onassis kemudian tumbuh dengan sikap pemberontak dan tingkah laku yang badung, semuanya itu mereka lakukan semata-mata hanya ingin mencari perhatian dari orang tuanya. Christina nyaris tidak mempunyai teman, selain karena tak ada orang yang tahan berlama-lama dengannya, diapun tidak mempercayai orang lain dan selalu menganggap orang-orang selalu dekat dengannya hanya karena hartanya. Harta yang berlimpah ternyata tidak mampu memberinya kasih sayang yang didambakannya. Perselingkuhan ayah dan ibunya yang kemudian berujung pada bencana perceraian membuat Christina makin hancur dan menangis setiap malam selama setahun penuh.

 

Christina sengaja mencari kesibukan dengan kegiatan sekolahnya yang berpindah-pindah pada beberapa sekolah mahal di Amerika dan Eropa, namun semua itu tidak mampu memuaskan dahaganya, bahkan nyaris tak ada satupun pelajaran yang mampu tinggal di otaknya walaupun sebenarnya dia tidak bodoh. Waktu bergulir dan berbagai skandal orang tua mereka yang sepertinya saling bersaing meraih popularitas dan menjadi santapan pers kemudian makin membuat mentalnya terpuruk, sang kakak Alexander lebih beruntung karena mampu mencari kesibukan dengan menggeluti hobinya di bidang otomotip dan aeromodelling.

 

Kepahitan hidup masih terus mengikuti Christina setelah sang ayah bersikeras menikahi janda mendiang JFK, Jaqueline Kennedy –walaupun ditentang kedua anaknya. Christina yang memang pada dasarnya membenci Jaqueline makin merasa dipinggirkan, pelariannya ke beberapa laki-laki yang dinikahinya sama sekali tidak membawa hasil. Christina mulai lari ke obat-obatan, hingga sempat masuk rumah sakit karena over dosis, belum lagi masalah dengan berat badannya yang terus bertambah dan akungnya disikapi dengan keranjingannya mengkomsumsi obat pelangsing.

Tahun 1973, Alexander Onassis sang putra mahkota meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat, Aristotle sangat tertekan, bagaimanapun Alexander adalah harapannya dalam melanjutkan kejayaan keluarga Onassis. Sementara Christina masih ditolak sang ayah yang masih marah dengan kelakuan Christina yang menikah dengan orang luar Yunani tanpa seijinnya. Cerita makin mengenaskan saat sang ibu Tina didapati meninggal dengan dugaan over dosis obat-obatan di tahun 1974, menyusul setahun kemudian sang ayah yang meninggal karena berbagai penyakit dalam kepedihan akibat kehilangan sang putra mahkota.

 

Sepeninggal kedua orang tuanya dan kakak satu-satunya, Christina-yang menjadi pewaris tunggal klan Onassis- sempat bermasalah dengan ibu tirinya, Jaqueline Kennedy Onassis tentang pembagian harta warisan. Berkali-kali “mengganti” suami sama sekali tidak membuat Christina tenang dan bahagia, hingga akhirnya dari perkawinannya dengan anak seorang pengusaha farmasi dari Perancis, Thierry Roussel lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Athina. Christina sempat merasakan kebahagiaan, sebagai bukti dia melimpahkan harta kepada sang anak, di usia yang ke enam bulan Athina telah memiliki kebun binatang pribadi dan pakaiannya semua hasil rancangan Dior.

 

Tapi sekali lagi, kebahagiaan Christina tidak abadi. Hubungannya dengan Roussel makin merenggang, tubuhnya makin gemuk dan terdengar kabar sang suami punya pacar. Puncaknya di tahun 1988 saat nyawa Christina tidak tertolong lagi. Penyebab utamanya paru-parunya berair berlebihan, diduga dia kena serangan jantung namun karena ditemukan juga obat-obat penenang, penyelidikan masih dilanjutkan. Akhir yang mengenaskan dari rangkaian cerita kehidupan seorang anak manusia yang nyaris tidak pernah menemukan kebahagiaan yang sesunguhnya, selain kebahagiaan yang semu berbalut materi.

 

Cerita tentang Christina sungguh membuat aku miris, hidup yang terlihat sangat mampu membuat orang lain iri karena limpahan hartanya ternyata hanya menghadirkan kebahagiaan yang semu, yang nampak bagai fatamorgana karena susungguhnya Christina sangat merindukan hal-hal yang sederhana dan sangat mendasar, kasih sayang.  Ternyata memang money can’t buy me love…..

ANAK-ANAK DAN PERMAINANNYA

Dalam rapat koordinasi hari senin kemarin, bos sempat menyinggung tentang kehidupan masa kecilnya yang indah,sederhana dan Ndeso, topik yang kemudian mampu menyentil memori tentang masa kecilku dan membandingkannya dengan masa kecil anakku sekarang ini.

 

Terus terang, masa kecilku dapat digolongkan bahagia. Hidup di lingkungan yang masih asri membuat aku dan teman-teman bisa mencari bermacam-macam alternatif permainan yang “alami”. Di belakang kompleks rumah kami masih tumbuh subur pohon-pohon dan semak belukar hingga hampir mirip sebuah hutan, belum lagi termasuk kebun-kebun mangga atau singkong milik penduduk. Kegiatan yang paling sering kami lakukan adalah masuk hutan, manjat pohon mangga atau pohon nangka, tapi yang paling sering adalah manjat pohon lobi karena pohonnya yang relatif lebih pendek. Kadang bila nakal kami kumat, kami nekad menerobos pagar kawat duri dan masuk ke kebun orang untuk hanya sekedar mengambil mangga yang lebih manis daripada mangga-mangga liar di luar kebun. Sebagai info, kawasan tempat kami “bergerilya” itu sekarang sudah disulap menjadi kawasan perumahan cukup elit di kota Makassar, yang lucunya lagi jadi tempatku mencari nafkah sekarang ini.

 

Sepulang sekolah saat udara panas menyengat kami biasanya berlomba-lomba menceburkan diri ke sungai yang mengalir di depan kompleks, atau kadang-kadang berjalan agak jauh untuk bisa berenang di dekat bendungan, tidak peduli pada “ranjau” berupa kotoran manusia yang juga banyak berlayar di sungai itu. Kadang-kadang juga kami ikut menggembalakan kerbau milik teman di lapangan luas di kompleks kami, lapangan yang sore harinya kemudian dipakai sebagai tempat bermain bola. (saat ini lapangan itu “ditumbuhi” ruko-ruko).

 

Saat hujan turun adalah saat yang paling menyenangkan untuk bermain bola, karena aku dasarnya paling suka melakukan sliding tackle, dan lapangan yang licin dan becek tentunya membuat sliding tackle aku makin lancar, walhasil aku pasti pulang dengan pakaian yang sangat kotor. Memandikan kerbau dan sapi, mencarikan rumput dan memberi makan hewan-hewan berkaki empat itu adalah juga merupakan momen yang tidak pernah hilang dari memori.

 

Di musim kemarau saat angin bertiup kencang, kami suka bermain layangan, sementara di musim hujan pilihan kami jatuh pada kegiatan berakit-rakit di sawah yang tergenang dibelakang rumah. Saat musim tanam padi tiba, aku juga sering ikut menanam padi di sawah milik para penduduk asli, kemudian saat padi mulai menguning kami ikut menjaganya dari serangan burung-burung. Bercanda di dangau sambil sesekali membunyikan “alarm” yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas yang dirangkai menggunakan tali. Pengalaman di dangau itu sangat berkesan bagi aku, tidak ada makanan yang lebih menyenangkan selain makanan rumahan yang disantap sambil diiringi angin sepoi-sepoi di dangau pinggir sawah. Sekarang sawah itupun telah menjadi lingkungan real estate.

 

Kembali ke tahun 2007, dengan kondisi telah dewasa, menikah dan memiliki anak usia 3 tahun. Saat ini boleh dibilang makin sulit rasanya mencari area publik yang terbuka yang memungkinkan anak-anak bermain lepas dan dekat dengan alam. Selain itu budaya instant juga membuat para orang tua lebih suka menghadiahkan mainan elektronik buat anaknya semisal PS dan game-game elektronik lainnya, mainan yang pada dasarnya kemudian membuat anak-anak jadi makin malas bersosialisasi baik dengan teman lainnya ataupun dengan alam sekitar. Selain itu anak-anak pun jadi malas berkreasi untuk membuat mainan sendiri, ngapain repot-repot kalau semuanya bisa dibeli.

 

Anak-anak sekarang-termasuk anakku-biasanya hanya punya satu tujuan di hari libur, ke mall. Melihat Ayah dan Bundanya bersantai di pagi hari si kecil segera tahu kalau ini hari libur, dan secara otomatis akan memaksa untuk diajak ke Mall. Hal ini cukup merisaukan aku dan istri, karena bagaimanapun kebiasaan ke mall di hari libur dan bermain di tempat-tempat bermain di mall sesungguhnya menumbuhkan sifat konsumerisme. Hilang pula kesempatan sang anak untuk dekat dan peduli pada alam sekitar, aku takut anak aku nantinya hidup sebagai “orang kota"  yang konsumtif dan tidak punya kepedulian pada alam.

 

Risau dengan kemungkinan ini kamipun mencoba membuat program baru, mengenalkan alam sekitar pada si kecil dan mencari alternatif kegiatan liburan yang berbeda. Dimulai dari beberapa minggu yang lalu, kami meluangkan waktu mengunjungi tempat wisata air terjun dan pantai. Si kecil sangat menikmati saat-saat kedekatannya dengan alam itu, bermain air dengan bebas, membuat istana pasir dan belajar berenang. Di hari-hari ke depan kami akan lebih berusaha meluangkan waktu untuk bisa mengenalkan sikecil dengan alam dan lingkungannya. Terkadang kami juga membiarkan si kecil bermain lumpur dan pasir di depan rumah yang kebetulan suka tergenang air saat hujan. Memang sih banyak tetangga yang merasa kami agak aneh dengan memberi kebebasan berkotor-kotor pada si kecil. Tapi seperti tagline iklan sebuah  sabun cuci, kami tidak takut si kecil pulang dengan pakaian kotor, sepanjang dia belajar sesuatu dari aktifitasnya yang dekat dengan alam.

 

Beruntung bahwa saat ini si kecil kami masukkan di playgroup yang punya program mengenal alam dan lingkungan sekitar. Setiap hari rabu dan jum’at anak-anak diajak piknik ke ruang terbuka, mengenal berbagai tumbuhan dan belajar meyayanginya. Sayangnya bahwa kota Makassar tidak lagi punya kebun binatang, tempat yang menurut aku bisa bermakna lebih buat anak-anak selain tempat rekreasi.

Taman terbuka yang layak buat dijadikan tempat bermain pun tergolong sangat langka, kalaupun ada lingkungannya kadang tidak kondusif lagi buat dijadikan tempat bermain karena kadang tidak terawat. Pernah terbayang di kepalaku, kalau aku jadi orang super kaya dan punya tanah luas pengen rasanya aku buat menjadi taman yang rimbun dengan berbagai arena permainan yang kreatif bagi anak-anak dan bisa dijadikan tempat bersantai bagi para orang tua.

 

Yah, bagaimanapun ini tugas berat para orang tua untuk lebih kreatif mencarikan alternatif area bermain yang lebih positif, dan tentunya mampu memancing kreatifitas, kepekaan dan kepedulian anak-anak terhadap lingkungannya.

 

PEARL JAM NITE 3

Pj_nite_bdg_flyer 

 
                                                            poster PEARL JAM NITE 3-Courtesy of Pearl Jam Indonesia

Manusia adalah makhluk sosial, yang butuh berintreaksi, bersosialisai, bergaul dan berbagi dengan manusia lainnya. Salah satu ajang sosialisasi yang paling nyaman tentu saja adalah dengan berkumpul dalam satu komunitas berisi manusia-manusia lainnya yang punya ketertarikan yang sama terhadap satu hal. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan orang-orang berkumpul dalam satu komunitas di dunia maya, sambil sesekali berkumpul dan bertemu di dunia nyata.

 

Saya sendiri sebagai manusia yang punya ketertarikan besar pada Sepakbola dan musik -namun agak terlambat bergaul dengan dunia maya-akhirnya bertemu teman-teman satu aliran, sama-sama suka dan jatuh cinta pada PEARL JAM. Agak terlambat memang, karena baru pada bulan maret tahun ini saya bisa bergabung di komunitas Pearl Jam Indonesia, padahal komunitas ini sendiri sudah berdiri sejak tahun 2001 dengan keanggotaan saat ini sekitar 300 orang.

 

Saya nggak tahu berapa banyak band atau artis (utamanya produk 90-an) yang punya milis penggemar di Indonesia dengan keanggotaan yang besar dan aktifitas yang juga besar. Tapi yang pasti milis PEARL JAM yang saya ikuti ini sangat mampu untuk menampung ketertarikan para penggemar band asal Seattle ini, karena lalu lintas pertukaran info atau material sekitar Pearl Jam yang cukup aktif.

 

Bicara soal PEARL JAM, sebagian besar orang yang kenal band ini rata-rata menyangka kalau band ini sudah almarhum atau paling tidak sudah vakum seperti nasib beberapa pengusung Seattle Scene yang lain. Saya sendiri sebenarnya sempat hilang kontak dengan PEARL JAM selama kurang lebih 5 tahun, sempat juga mengira PEARL JAM udah “lewat”, makanya pas gabung di milis rada-rada surprise juga mengetahui kalau PEARL JAM ternyata masih eksis, masih terus giat menjalani World Tour  (yang masih saja sukses di tiap negara yang didatanginya), dan masih tetap mengeluarkan album atau single.  Suatu hal yang luar biasa, mengingat band-band sejenis dan seangkatan rata-rata sudah almarhum atau vakum.

 

Soal komunitas Pearl Jam Indonesia, sebagaimana jamaknya komunitas di dunia maya, pertemuan di darat juga sering digelar, entah berupa gathering mini yang hanya melibatkan beberapa orang dengan jenis acara dan tempat yang dadakan, atau gathering akbar semacam Pearl Jam Nite-a tribute to Pearl Jam yang diatur secara ditel soal tempat dan susunan acaranya . Dan tahun ini Pearl Jam nite kembali digelar untuk yang ketiga kalinya dengan mngambil tempat di kota Bandung, salah satu kota basis fans berat Pearl Jam. Berbagai persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, berbagai rintangan juga datang sejak jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan 2 hari menjelang hari H, saat berita baru muncul tentang perubahan lokasi acara.  Apapun itu saya melihat kesungguhan anak-anak milis untuk tetap berjalan berdampingan mensukseskan acara gathering ini, sekaligus mempererat silaturrahmi antar anggota. Salut buat panitia dan semua anggota milis yang telah membantu pelaksanaan acara itu.

 

Sayangnya, walaupun gathering mini telah beberapa kali diadakan, plus Pearl Jam nite yang sudah akan masuk ke bilangan ke tiga, tapi saya belum pernah sekalipun ikut serta dan berkumpul dengan sesama Jammers. Selain karena faktor keanggotaan yang masih seumur jagung, faktor jarak Makassar-Jakarta yang lumayan menguras kantong juga jadi salah satu alasan. Dan pagelaran Pearl Jam Nite 3 sabtu besok pun terpaksa aku lewatkan...

 

Sekarang hanya ada satu harapan dari saya, mudah-mudahan acaranya berjalan lancar dan sukses, dan teman-teman yang datang bisa menikmati acaranya. Mungkin suatu hari nanti saya juga bisa ikut menikmati lagu-lagu Pearl Jam bersama mereka, atau mungkin suatu hari nanti bisa nonton Pearl Jam rame-rame bersama mereka....Insya Allah.

Janji

Anda pernah berjanji ?,atau mungkin anda pernah dijanjikan sesuatu oleh seseorang ?. Saya yakin semua orang pasti pernah berjanji dan pasti pernah dijanjikan sesuatu oleh orang lain, tapi saya juga yakin tidak semua orang bisa menepati janjinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang telah dijanjikan untuknya. Janji memang kadang menyejukkan, janji juga bisa dipakai sebagai topeng untuk mendapatkan apa yang diinginkan, para lelaki hidung belang biasanya memakai janji untuk menikahi pasangannya sebagai dalih untuk meminta sesuatu, bahkan sesuatu yang belum boleh diminta sekalipun.

 

Dalam kaitan dengan janji ini saya jadi ingat dengan slogan-slogan para calon penguasa saat melangsungkan kampanye demi memuluskan jalan mereka ke puncak kekuasaan. Sepertinya para kontestan berlomba-lomba mencari jargon-jargon yang paling pas buat dijadikan janji dengan satu tujuan, mencari dukungan sebanyak-banyaknya atau lebih kasarnya mencari “korban” yang bisa dijadikan tangga menuju puncak kekuasaan. Sialnya lagi, kita sebagai bangsa yang sudah cukup lama terjajah oleh bangsa lain yang berkulit lebih terang, akhirnya jadi susah memilah mana yang sekedar janji pemanis bibir dan mana yang benar-benar janji “asli”, sehingga pada saat penguasa yang paling mampu mengobral janji itu naik ke puncak kekuasaan, sebagian dari kita mulai lupa dengan janji yang pernah diucapkannya, hingga akhirnya fenomena mengobral janji demi kekuasaan jadi barang baku dan bersifat biasa saja bagi kita semua.

 

 Beberapa bulan belakangan ini kota Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya sedang ramai dengan janji-janji dari 3 pasang kandidat calon Gubernur. Tahun ini propinsi yang diklaim sebagai gerbangnya Indonesia Timur ini akan menggelar pemilihan langsung kepala daerah yang pertama. Saat ini secara resmi sudah ada 3 pasang calon yang mendapat dukungan partai dan koalisi partai untuk maju dan bersaing di Pilkada itu.

 

Dan, sebagaimana rumus umum untuk menghadapi suatu persaingan di ajang Pilkada, para calon pun sudah mulai jor-joran dengan janji-janji mereka. Berbagai slogan bermunculan, Khidmat untuk rakyat, berjuang untuk rakyat, berjuang untuk pemerintahan yang bersih, untuk rakyat yang lebih sejahtera, pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat, pokoknya intinya berjanji untuk keadaan yang lebih baik bagi propinsi ini jika mereka yang berhasil duduk di puncak nantinya.

 

Salah satu media paling efektif untuk mengobral janji tentunya adalah pemanfaatan ruang publik, makanya jangan heran kalau sekarang kota Makassardan kota-kota lainnya di SulSel sudah penuh dengan warna-warni spanduk,baliho atau sekedar flyer bergambar wajah sang calon Gubernur (dan wakilnya) disertai janji-janji mereka. Hal yang wajar menurut saya, sangat wajar malah. Namun sayangnya ada promosi yang agak kurang tepat dari para pendukung sang calon. Beberapa pendukung (entah yang relawan atau memang dibayar) dengan seenaknya memasang spanduk besar di ujung jalan atau lorong dengan tulisan “ anda memasuki kawasan pendukung XXXX ”, seolah-olah di kawasan tersebut semuanya adalah pendukung sang calon. Psy war yang memang mumpuni sih kalau aku bilang, Cuma sayangnya cara ini juga berpotensi memecah persatuan kawasan bersangkutan.

 

Kalau misalnya satu lorong itu memang benar pendukung sang calon, mungkin tidak ada masalah, tapi kalau ternyata di lorong atau kawasan tersebut ada pendukung calon lain, atau bahkan fanatik terhadap calon lain maka bisa dipastikan rasa tidak suka akan muncul, syukur-syukur kalau mereka bisa tahan “dituduh” ikut-ikutan mendukung calon yang namanya terpasang di spanduk di depan lorong /kawasan mereka, nah kalau mereka bereaksi keras ?, bisa-bisa terjadi perpecahan dong..

 

Ada satu jargon dari salah satu calon yangmenurut saya cukup menyejukkan, isinya kira-kira begini “ bila anda mendukung XXX, kita berjalan bersama, bila anda tidak mendukung,kita berjalan beriringan “ sayangnya jargon ini hanya terlihat sesekali, tidak dipromosikan secara besar-besaran, padahal menurut saya intinya bagus sekali, siapapun calon anda yang penting tetap berjalan beriringan, menjaga ketertiban dan keamanan demi kenyamanan bersama.

 

Harapan saya (dan saya yakin semua masyarakat Sulsel) adalah semoga pilkada nanti berjalan jujur,bersih, dan yang paling penting aman jangan sampai deh ada tindakan anarkis dan perpecahan di antara para pendukung calon Gubernur. Dan setelah Pilkada itu sendiri berlangsung sukses, semoga siapapun yang menang tidak lantas lupa akan janji-janji yang sudah diobral sebelumnya…semoga..

 

 

POLIGAMI

Polygamy


Hampir 6 bulan yang lalu kita dikejutkan oleh berita tentang seorang Da’i kondang yang selama beberapa tahun terakhir ini namanya begitu meroket dan mampu mancuri hati jutaan ummat. Da’i yang selalu tampil bersahaja, lemah lembut dan menyejukkan di balik assetnya yang konon berjumlah miliaran rupiah itu. A’a Gym, mengejutkan publik dengan pengakuannya yang telah memilih jalan menduakan istrinya Teh Nini dengan mengambil keputusan berpoligami. Beberapa kalangan utamanya ibu-ibu bereaksi keras terhadap pilihan beliau, sebagian besar di antaranya memilih jalan ekstrem dengan sama sekali tidak mau mendatangi pengajian pimpinan sang Da’i atau bahkan mendengarkan ceramah beliau.

 

Poligami memang menjadi masalah yang sensitif bagi kaum wanita. Walaupun telah jelas dalam Al Qur’an kalau poligami itu dibolehkan dengan syarat yang sungguh berat, tak urung banyak wanita yang menetangnya karena dianggap telah menciderai hak dan martabat wanita. Dan ketika poligami itu dilakukan oleh seorang public figure, tak urung berbagai reaksipun bermunculan, dan efek dari poligami itu sendiri kkemudian dirasakan banyak kalangan, dari yang terdekat semisal keluarga sampai lingkaran terluar yaitu pelaku bisnis di seputar pesantren A’A Gym.

 

Sebuah film Indonesia berjudul “berbagai suami” yang mengangkat tema poligami juga menyiratkan bahwa korban terbesar dari sebuah poligami itu selain istri pertama sebenarnya adalah anak-anak. Kehadiran sosok seorang ayah tentu sangat dibutuhkan anak di manapun di dunia ini, baik secara fisik maupun psikis, dan poligami sangat berpotensi mengurangi kehadiran sosok ayah tersebut. Pembagian waktu yang adil antara beberapa istri tentunya membuat anak-anak harus rela-suka atau tidak suka-berbagi ayah dengan saudara-saudaranya yang lain

 

Bagi beberapa orang pelaku poligami yang sangat paham akan konsekuensi ini, mereka bisa menyiasatinya dengan sangat baik sehingga kualitas kebersamaan antara ayah dan anak bisa tetap terjaga walaupun dengan kuantitas yang kurang. Tapi sayangnya bagi banyak suami yang memilih jalan berpoligami-utamanya yang memiliki tingkat kecerdasan dan kepekaan yang rendah, kebutuhan anak akan kasih sayang tampaknya hanya berada di urutan kesekian alias tidak mendapat perhatian lebih.

 

Saya sendiri menjadi saksi akan efek negatif poligami dan kurang siapnya sang pelaku mengantisipasi masalah sosial dari poligami ini terhadap anak-anaknya. Tetangga saya kebetulan adalah “korban” poligami. Seorang ibu dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil (anak tertua baru kelas 1 SD). Sang bapak- yang entah punya istri berapa – hanya datang sesekali menengok anak dan istrinya, itupun tanpa menginap (dulu masih sering menginap di akhir pekan, tapi entah kenapa sekarang sudah tidak lagi). Saya bisa melihat binar cemburu di mata anak-anak itu saat anak saya bisa dengan bebasnya bermain bersama saya, mengadu ke saya atau saat kami sekeluarga keluar bersama di akhir pekan.

 

Terbayang oleh kami (saya dan istri) bagaimana repotnya sang ibu mengurus 3 orang anak yang masih kecil-kecil itu seorang diri, ditambah lagi dengan kerjaan rumah yang saya yakin sangat menguras tenaga. Kami sendiri yang hanya punya satu anak kecil ditambah sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, kadang-kadang merasa sangat letih. Makanya tidak heran kami biasa mendapati sang Ibu tetangga kami itu meluapkan kekesalannya pada anak-anaknya dengan cara yang kasar, berteriak dan memaki. Hal-hal ini tentunya akan memberi dampak yang negatif terhadap perkembangan psikologis sang anak nantinya, dan ini sudah mulai kelihatan ketika sang anak juga dengan mudahnya memaki Ibunya saat marah, dan akar utama dari ini semua adalah keputusan poligami sang bapak.

 

Menurut saya,hal yang terpenting dalam sebuah keluarga yang terlanjur terlibat dalam poligami adalah manajemen waktu. Bagaimana sang Bapak selaku pelaku utama bisa mensiasati waktu yang harus terbagi itu sehingga tidak ada yang betul-betul merasa menjadi korban. Bagaimanapun masa depan anak yang adalah hal terpenting, sehingga usaha membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang utuh walaupun harus terbagi selayaknya menjadi prioritas utama. Anak-anak terntunya memiliki kadar ketahanan yang masih rapuh terhadap perubahan sosial di sekelilingnya bila dibandingkan dengan orangtua. Apa yang terjadi di masa kecilnya tentu akan sangat membekas bagi kehidupannya di masa yang akan datang.

 

Pesan utama yang ingin saya sampaikan adalah, buat suami yang ingin memilih berpoligami hendaklah berpikir masak-masak tentang ekses yang mungkin akan ditimbulkannya. Islam memang membolehkan poligami-bahkan beberapa kalangan menganggapnya sebagai syariat-namun Islam juga memberi syarat yang sangat ketat tentang poligami ini, jadi sesungguhnya poligami bukan hanya sekadar jalan “halal” untuk memuaskan nafsu. Bagi para suami yang telah meilih jalan poligami dan ternyata sukses menjalaninya, membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas saya hanya bisa menyatakan kekaguman, karena sepertinya hal tersebut tidak akan bisa saya lakukan…

 

 

 

Catatan yang tersisa


Champion_winner

final Liga Champion Eropa musim ini yang mempertemukan AC.Milan & Liverpool baru saja digelar. AC.Milan sebagai salah satu klub yang punya takdir dan track bagus di Liga Champion akhirnya mampu membalaskan dendam mereka 2 tahun lalu di Istanbul dengan menggulung Liverpool 2-1. pahlawan Milan kali ini adalah si “Super Pippo”,Filippo Inzaghi. Striker gaek yang sebenarnya minim kualitas teknik tapi punya keunggulan dalam penempatan posisi dan kejelian melepaskan diri dari perangkap off side. Malam itu Inzaghi seakan-akan mengesahkan factor kelebihannya itu. Gol di babak pertama adalah murni berbau keberuntungan, tendangan dari Pirlo yang sebenarnya menuju sisi kiri gawang Reina sempat menyentuh badan Inzaghi dan berbelok ke arah kanan gawang, meninggalkan Reina yang telah terlanjur melompat ke kiri. Entah ini kali keberapa Inzaghi berada di posisi yang tepat di waktu yang tepat untuk menciptakan gol.

 

Gol kedua “Super Pippo” malam itu dicetak memanfaatkan kelebihannya yang lain,  melepaskan diri dari jebakan off side. Jaap Stam, mantan bek tangguh AC.Milan,Lazio,Manchester United dan Ajax itu sendiri pernah mengatakan betapa dia membenci Inzaghi karena walaupun pemain ini paling sering terkena jebakan off side tapi setidaknya dari 10 jebakan dia bisa melewati satu jebakan untuk kemudian membuat gol. Menerima umpan cerdik dari Kaka, Inzaghi mampu melepaskan diri dari jebakan 4 bek Liverpool, mengecoh Reina dan menceploskan bola ke gawang kosong dengan sebuah tendangan lemah namun indah.

 

Tulisan ini sebagian besar nggak akan mengulas teknis pertandingan, karena saya yakin sebagian besar pecinta sepakbola udah pada nonton dan tentunya udah pada tau analisa dan review pertandingan tersebut. Tulisan ini sebagian besarnya hanya akan memuat tentang pengalaman pribadi saya yang kebetulan ikut menonton rame-rame bersama teman-teman.

 

Rencana nonton bareng sebenarnya udah lama dibuat. Begitu muncul kepastian siapa yang berhak melaju ke final, saya dan beberapa teman kantor yang sama-sama doyan sepakbola udah mulai kasak kusuk mencari tempat strategis buat nonton bareng. Kepastian lokasi akhirnya baru keluar tepat di hari H. Hotel Horison yang kebetulan menggelar acara nonton bareng akhirnya jadi pilihan karena harganya yang paling murah. Luamayan, dengan hanya membayar 30 ribu perak, kami bisa nonton pake layar lebar plus makan bubur ayam dan sarabba’ (semacam wedang jahe-khas Makassar), dan lebih lumayan lagi, semuanya ada yang nanggung, so kita-kita cuma siapin badan aja.

 

Total peserta dari kantor yang siap ikut ada 17 orang, sebagian berangkat barengan, sebagiannya lagi berangkat sendiri-sendiri. Pukul 11 malam saya sudah siap dengan jersey Milan bernomor punggung 3 dengan nama “Maldini” ,idolaku. Ngumpul di tempat teman sampai pukul 12 sebelum berangkat rame-rame ke hotel Horison. Acaranya sendiri udah mulai dari jam 11 malam, dimulai dengan acara adu ketangkasan bermain Winning Eleven yang melibatkan 8 peserta (4 pasang). Masing-masing peserta diundi siapa yang bakal mainin AC.Milan atau Liverpool.

 

Setiap abis satu game, acara diselingi dengan quiz seputar kedua tim yang bertanding malam itu serta seputar liga champion itu sendiri. Salah satu pertanyaannya adalah “berapakah usia pelatih Liverpool Rafael Benitez tahun ini ?”. kebetulan banget malam sebelum ke tempat nobar saya sempat baca-baca di koran perihal profil kedua pelatih, jadi tahun kelahiran Rafa masih membekas di kepala, langsung aja saya angkat tangan dan karena yang lain kayaknya gak ada yang tau atau lupa jadilah saya yang ditunjuk. Jawaban benar dan bingkisan dari sponsor pun berpindah tangan ke saya, lumayan dapat topi Extra Joss dan 2 gelas cantik..hehehe.

 

Session tanya jawab berikutnya bergulir lagi, sebagian besar sih saya tahu jawabannya, dan sempat kena tunjuk lagi, cuman dibatalkan sama produsernya karena katanya udah dapat hadiah. Sebenarnya saya sudah ngomporin teman-teman yang lain buat unjuk tangan, ntar jawabannya saya yang kasih, tapi kayaknya teman-teman nggak ada yang pede.  

 

Menjelang pertandingannya mulai penonton yang datang membludak, ruangan buat nobar kayaknya malah jadi sesak, AC-nya jadi nggak kerasa bikin udara terasa panas, apalagi ditambah asap rokok yang memenuhi udara. Sepanjang pertandingan penonton yang sebagian besar pendukungnya AC Milan ribut memberi dukungan, saya juga nggak mau ketinggalan dong apalagi aslinya emang suka teriak kalo nonton bola. Walhasil waktu pulang tenggorokan rasanya serak sampai-sampai mau bicara saja susah. Hal yang paling saya nikmati dari acara nonton bareng adalah kebebasan berteriak dan melompat kegirangan, dan saat Inzaghi mencetak gol pertamanya, ruangan kafe Malaber (tempat nobar) serasa mau pecah, seluruh pendukung Milan berteriak berbarengan sambil jingkrak-jingkrakan nggak karuan, asyik banget. Sementara pendukung Liverpool cuman bisa terdiam.

 

Di paruh waktu babak pertama, quiz kembali digelar, kali ini pertanyaannya agak susah. Selain tahun ini, tahun berapakah kota Athena pernah jadi tuan rumah final Liga Champion ?, untung di dekatku ada koran Tribun Timur yang kebetulan ada informasi tentang Athena. Saya ngasih bocoran ke teman yang kebetulan kena tunjuk buat menjawab, tapi sayangnya dia salah sebut, dia bilangnya tahun 1993 soalnya saya ngasih bocorannya musim 1993-1994, dianggap salah deh. Karena rupanya penonton yang lain nggak ada yang bisa jawab, akhirnya saya unjuk tangan lagi dan merekapun terpaksa menunjuk saya kembali untuk menjawab. Jawaban saya tahun 1994, di mana AC Milan juga yang juara setelah memukul Barcelona 4-0, benar lagi dan satu paket kecil dari majalah Soccer berisi pernak-pernik sepakbolapun berpindah tangan. Lumayan dapat emblem AC Milan dan gantungan kunci gambar Christiano Ronaldo, cuman sayangnya dari beberapa pernak-pernik yang saya terima ada vandel klub Chelsea dan beberapa gantungan kunci timnas Brasil, tim yang saya nggak suka....heran deh, kok acara final Champion antara Milan vs Liverpool hadiahnya pernak-pernik klub lain. Aku sih curiganya hadiah itu tadinya bonus majalah Soccer yang nggak sempat terjual yang kemudian dikumpulin buat dijadikan hadiah acara malam itu.

 

Overall acara malam itu asyik banget, saya merasa sangat beruntung. Tim favoritku juara dan berbagai hadiah berhasil saya bawa pulang. Tadinya saya ngincar hadiah door prize berupa tipi 14 inch, cuman sayang gak kena,hehehe..begitu juga dengan voucher nginap gratis di Hotel Horison. Pada pengundian tebak score, saya yang sebelumnya udah nebak score 2-1 buat Milan nampaknya juga udah nggak beruntung. Hadiah 250 rb lebih milih jatuh orang lain daripada saya, nggak papa lah, belum rejeki saya...

 

Oya, dari beberapa pertanyaan quiz, ada 2 pertanyaan yang saya betul-betul blank. Yang pertama adalah presiden Liverpool, nah kalau ini saya memang bener-bener gak tau. Yang kedua pertanyaan tentang selain Ancelotti, siapa lagi 4 orang yang pernah menjadi pemain dan pelatih yang berhasil menjuarai liga Champion. Saya sih cuman ingat Frank Rijkard dan Johan Cruijff, pagi tadi saya cek yang dua lagi ternyata Giovanni Trappatoni dan Manuel Munoz (?, lupa..yang jadi juara Champion bareng Madrid sebagai pemain dan pelatih).

 

Overall, acaranya seru banget. Pulang ke rumah jam 5 pagi dengan hati bahagia. Bahagia karena Milan juara, serta bahagia karena bisa membawa pulang hadiah..hehehe..kalaupun ada yang kurang hanya karena sebelum pertandingan dan pada paruh waktu babak pertama kita nggak sempat dikasi liat preview dan review pertandingan, soalnya disela kegiatan quiz itu, tapi yah sudahlah namanya juga acara yang pake sponsor...so, see you next seasons...

MAKAN MI

Membaca judul di atas orang tentu akan berpikir kalau itu bermakna mengajak orang untuk makan mie. Tapi coba ucapkan kalimat itu pada orang Sul-sel ato minimal orang yang tau logat lokal sini, ditanggung maknanya akan lain. Penggunaan partikel MI di belakang kata “makan” bagi orang Sul-Sel bermakna mempersilakan atau secara kasar menyuruh, jadi makna kalimat “makan mi” bagi orang Sul-Sel kurang lebih sama dengan “silakan makan”.

 

Logat dalam bahasa Indonesia orang Sul-Sel memang unik, penggunaan beberapa partikel di belakang kata-kata utama sangat memberi warna bagi bahasa itu sendiri. Kadang-kadang partikel itu sendiri agak sulit untuk ditentukan definisi khususnya, utamanya tentang penempatan partikel tersebut. Ambil contoh partikel MI di atas, dalam kalimat “makan mi”, partikel MI bermakna mempersilakan, tapi dalam kalimat lain, misalnya “ besar mi”, partikel mi berubah fungsi sebagai penegasan kalau orang/benda yang dimaksud telah besar (dewasa). Dalam kalimat lain, misalnya “jadi satumi” partikel MI kembali berfungsi sebagai penegasan jika benda/orang telah menjadi satu, beda dengan kalimat lain seperti “ambil mi” dimana MI berfungsi kembali untuk mempersilakan orang mengambil barang/benda. Cukup membingungkan, bukan ?.

 

Padahal itu baru satu partikel, masih banyak partikel lain yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia versi Sul-Sel, partikel itu adalah : PI,JI,

KI

,

MO.

Beberapa contoh penggunaannya adalah sebagai berikut :

 

Partikel PI = “satu pi” (bermakna menegaskan kalau subjeknya masih kurang satu lagi),contoh yang berbeda : “malam pi” yang artinya kurang lebih “nanti malam”, biasanya dipakai untuk kalimat seperti “malam pi ko datang” (kamu datangnya ntar malam aja).

 

 Partikel JI = khusus pada partikel ini, maknanya kurang lebih sama dengan hanya,contohnya pada kalimat “satuji saya bawa” yang artinya kurang lebih “saya cuman bawa satu” (perhatikan tatanan penempatan kalimat yang agak berantakan..hehehe). Tapi kadang-kadang partikel ini juga bermakna menegaskan, misalnya pada kalimat “ besarji rumahnya “ yang artinya sama dengan “ rumah besar kok..”, wah makin bingung deh, apalagi ditambah dengan kenyataan aku kurang bisa menjelaskan dengan kata-kata..hehehe..

 

Sebagai info, Propinsi Sulawesi Selatan terdiri atas banyak suku yang berbeda dan kemudian digolongkan dalam 3 kelompok suku terbesar (dulunya ada 4 sebelum suku Mandar sekarang mayoritasnya berada dalam wilayah Sulawesi Barat). Suku-suku itu adalah : Bugis,

Makassar

dan Toraja yang ketiganya memiliki perbedaan mencolok dari segi bahasa daerah. Ketiga suku tersebut kemudian terpisah lagi dalam beberapa sub-suku yang lebih kecil. Suku Bugis misalnya, ada Bugis Bone (yg lingkup bahasa dan wilayahnya paling luas), bugis Sinjai dan beberapa sub suku Bugis lainnya yang kadang-kadang juga punya bahasa yang agak berbeda. Sementara suku Makassar terbagi atas beberapa sub suku yang lebih kecil yang mempunyai logat dan bahasa yang juga berbeda, misalnya daerah Bulukumba dan Selayar yang secara fisik dianggap suku

Makassar

namun memiliki bahasa daerah yang lumayan berbeda dengan bahasa Makassarnya orang Gowa dan Takalar. Sebagai info lagi, sebuah kabupaten kecil sebelah utara kota Makassar bernama Enrekang terbagi atas 3 daerah berbahasa berbeda, sebelah selatan bahasanya mirip bahasa Bugis karena memang berbatasan langsung dengan daerah suku Bugis, bagian tengah berbahasa daerah sendiri, sementara bagian utara berbahasa daerah yang mirip bahasa Toraja karena memang berbatasan langsung dengan daerah Toraja. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya orang-orang di Sul-Sel kalau bahasa Indonesia tidak ada.

 

Bahasa Indonesia yang kemudian dipakai sebagai bahasa pemersatu kemudian ter-influence oleh bahasa daerah itu sendiri. Beberapa istilah bahasa daerah kemudian ikut mewarnai penggunaan bahasa

Indonesia

, di antaranya ya partikel-partikel itu tadi. Celakanya peleburan bahasa daerah ini ke dalam bahasa Indonesia juga mengacaukan susunan kalimat, merusak tatanan MD, Subjek Objek sehingga terkadang logat Sul-Sel terdengar sangat kacau. Dengarkan kalimat ini : “malam pi baru saya bawa bukumu nah..?”, yang dalam bahasa Indonesia yang benar kira-kira seperti ini “ bukumu aku bawa nanti malam saja ya ?”. kacau

kan

..?,hehehe..

 

Penggunaan bahasa

Indonesia

logat Sul-Sel ini juga terkesan sangat menghemat penggunaan kata,walaupun ya itu tadi,merusak tatanan bahasa yang benar. Sebagai contoh lagi : “kau mo yang bawaki” atau sama dengan kalimat “ nanti biar kamu aja yang bawa”..cukup hemat kan ?,belum lagi bila diucapkan terkadang ada discount lagi menjadi “ ko mo yang bawaki “..terkesan males banget yak..?,hehehe..

Itu baru segelintir contoh-contoh dari uniknya bahasa Indonesianya orang Sul-Sel, sangat beragam dan kadang-kadang bagi orang luar

Sulawesi

jadi terdengar lucu. Tapi ya itulah keistimewaan

Indonesia

yang punya banyak keanekaragaman yang meperkaya khazanah budaya kita. Jadi,bila anda berkunjung ke Makassar jangan salah sangka bila ada orang yang berkata kepada anda “makan mi”,jangan sampai anda mengira ditawari makan mie..hehehe..

 

Makassar

bisa tonji *

 

 

 

 

* : Makassar juga bisa, diambil dari judul lagu band lokal Art2Tonic, istilah ini cukup populer digunakan untuk membangkitkan fanatisme kedaerahan anak muda

Makassar

yang belakangan mulai sering sok ngomong pakai logat Jakarte.

 

Bantimurung-Kingdom of Butterfly

Sa400225

Momen libur panjang selama 4 hari kemarin merupakan momen yang kami tunggu-tunggu. Sudah cukup lama kami merencanakan untuk melancong ke luar kota. Kali ini tujuan kami adalah Bantimurung. Obyek wisata air terjun yang tepatnya berada di kabupaten Maros,berjarak kira-kira 45 KM sebelah utara kota Makassar.

 

Hari kamis pagi (17 mei) berangkatlah kami bertiga dengan menunggangi motor kesayangan. Perjalanan ke sana ternyata cukup melelahkan bagi putri kecil kami. Sepanjang perjalanan dia yang biasanya cerewet dan ngoceh kali ini lebih banyak diam, maklumlah ini perjalanan panjangnya yang pertama pake motor. Gawatnya lagi setiba di kota Maros,kira-kira kurang dari 15 KM dari tujuan dia nggak bisa nahan lagi dan…muntah !!. lumayan bikin panik dan iba, setelah mampir sebentar di masjid buat membersihkan bekas muntahan Nadaa perjalanan kami lanjutkan lagi, kali ini si kecil udah riang kembali, mengoceh dan mengomentari apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan,mungkin karena “beban”nya udah lepas..

 

Bantimurung sendiri kalo menurutku sudah banyak perubahan, makin cantik,bersih dan terawat. Berbagai fasilitas umum seperti WC dan tempat istirahat yang ditutupi payung fiber didirikan dan kelihatan cukup terawat. Jalan utama dalam lokasi air terjun yang ditutupi paving block terlihat cukup rapih, sampah-sampah tidak terlihat bertebaran. Suatu kenyataan yang terus terang cukup melegakan buatku. Salah satu sebabnya selain karena (mungkin) kesadaran pengunjung yang cukup besar terhadap kebersihan juga karena di sana-sini pihak pengelola banyak menempatkan tempat sampah berukuran cukup besar.

 

Udara di sekitar lokasi wisata juga masih terasa sejuk. Terakhir kali berkunjung ke sana sekitar 8 tahun lalu, aku udah agak-agak lupa apa udara sejuknya masih sama dengan waktu itu atau ada perubahan. Tapi yang jelas, sekarang ini aku agak kesulitan menemukan kupu-kupu yang beterbangan dengan bebas.

 

Dahulu Bantimurung oleh orang Belanda yang menemukannya dikasih julukan “Kingdom of Butterfly”tentu saja karena dulunya Bantimurung adalah surga bagi ratusan spesies kupu-kupu bahkan dari spesies langka sekalipun. Sayangnya menurut laporan terakhir, spesies kupu-kupu di Bantimurung berkurang secara signifikan setiap tahunnya. Penyebabnya bermacam-macam, selain karena perburuan liar yang dilakukan warga sekitar demi memuaskan mata pengunjung dan menangguk rupiah dari setiap ekor kupu-kupu yang mereka awetkan, juga tentu saja karena terjadinya perubahan ekosistem pada habitat asli kupu-kupu itu. Tingkat pencemaran udara yang terus meningkat tentu saja ikut berpengaruh pada menurunnya jumlah kupu-kupu di Bantimurung, karena seperti yang kita ketahui kupu-kupu adalah binatang yang sangat peka terhadap perubahan udara.

 

Sa400273 Aku agak miris juga melihat begitu bebasnya warga sekitar menangkapi kupu-kupu yang cantik itu, membunuhnya kemudian mengawetkannya dan memamerkannya dalam bentuk gantungan kunci ataupun hiasan dinding dengan harga berkisar Rp.5000-Rp.25.000. Beruntung bahwa pemerintah daerah sudah berupaya menahan laju jatuhnya angka jumlah spesies kupu-kupu akibat perburuan liar dengan melakukan pembatasan atas perburuan kupu-kupu. Selain itu pemda setempat secara persuasif juga menyadarkan masyarakat untuk sedapat mungkin memiliki penangkaran kupu-kupu sendiri, sehingga diharapkan jumlah kupu-kupu akan bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

 

Air terjunnya sendiri yang merupakan objek wisata utama dari Bantimurung sepertinya tidak banyak berubah, hanya saja hari itu arusnya cukup deras dan warna airnya yang agak kecokelatan, mungkin karena hujan yang turun di hulu sungai. Pohon-pohon hijau yang tumbuh di sekitar air terjun yang ditingkahi oleh batu-batu sungai masih tetap alami seperti dulu, kalaupun ada tambahan itu adalah arena berenang yang diperuntukkan bagi anak-anak, ya agak-agak mirip Waterboom Park tapi dengan skala yang jauh lebih kecil. Konon renovasi dan perbaikan areal wisata ini dulunya dibikin menyusul rencana peninjauan oleh presiden SBY setahun atau dua tahun lalu ya..lupa, dan kalau nggak salah waktu itu SBY juga akhirnya batal berkunjung, Yang untung ya para wisatawan, bisa menikmati fasilitas yang lebih bagus dan memadai untuk sebuah kawasan wisata. Hmm..kayaknya pak SBY musti sering-sering menjadwalkan rencana mengujungi tempat wisata, karena terbukti langkah-langkah seperti ini efektif juga buat nakut-nakutin pengelola tempat wisata biar lokasi wisata terus diperbaiki dan dibenahi..hehehe..

 

Secara umum jalan-jalan kami kali ini cukup menyenangkan, walaupun sempat kepikiran kalau si kecil nggak akan menikmati karena perjalanan yang lumayan jauh ditambah dengan mabok daratnya, tapi syukurlah karena ternyata setelah insiden muntah itu si kecil ahirnya bisa menikmati. Bahkan dia nggak bosan-bosannya bermain di air sungai yang dingin, soalnya baru kali ini dia liat sungai lengkap dengan aior terjun pula, katanya sih kayak di DORA..kalau nggak ingat sama flunya yang belum sembuh betul mungkin kami akan membiarkan dia bermain air lebih lama.

 

Lewat jam 1 siang kami meninggalkan Bantimurung, yah terbersit harapan mudah-mudahan kondisi tempat wisata yang cukup nyaman itu bisa bertahan lama, dan khususnya buat kupu-kupu yang cantik itu, semoga mereka bisa kembali merasakan makna kata-kata “Kingdom of Butterfly”, betul-betul merasa seperti berada dalam satu kerajaan di mana merekalah yang menjadi raja dan kita-kita manusia ini yang jadi prajurit penjaga kerajaannya..semoga..

Lagu Bermain

Kakak Mia,Kakak Mia

Minta anak barang seorang

Kalau dapat,kalau dapat

Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kau pilih 2x

 

Itu yang gemuk yang saya pilih

Bolehlah ia berjual sirih

Sirih,sirih,siapa beli 2x

 

 

Pernah dengar lagu di atas nggak ?,lagu itu judulnya “Lagu Bermain” karangan Ibu Sud. Aku sendiri baru tau lagu itu dari kaset kumpulan lagu anak-anak yang aku beli buat si kecil. Pertama kali dengar udah langsung “tertarik” sama syairnya, awalnya aku kira aku yang salah dengar, tapi pas aku cek teks-nya dan aku dengerin beberapa kali ternyata syairnya memang kayak gitu.

 

sempat terjadi diskusi kecil antara aku dan istriku yang ternyata udah tau lagu itu dari sejak kecil. Kami berdua sangat penasaran akan makna dari lagu ciptaan Ibu Sud itu.Yang bikin kami bertanya-tanya adalah siapa kakak Mia itu sebenarnya ?, dan apa profesinya ?. masak iya sih kakak Mia itu pengurus panti asuhan yang kerjanya mendistribusikan anak kecil untuk di”karya”kan.

 

Kalau misalnya lagu itu diciptakan oleh Iwan Fals atau pencipta lagu lain yang memang doyan memasukkan unsur kritikan sosial dalam lagunya mungkin aku akan berpikir kalau lagu itu adalah sindiran atau lelucon pahit tentang maraknya perdagangan anak. Tapi masalahnya lagu itu ciptaan Ibu Sud, figur yang terkenal dengan lagu anak-anak ciptaannya yang sangat populer dan bahkan jadi semacam legenda bagi anak-anak taun 70-an sampe 90-an awal kayaknya,entah dengan anak-anak generasi setelahnya yang justru lebih akrab dengan lagu-lagu orang dewasa. Atau mungkin juga Ibu Sud iseng aja menciptakan lagu itu ?-sesuai dengan judulnya “lagu Bermain”-jadi lagu itu emang dibuat sebagai “main-main”an tanpa ada unsur apapun di dalamnya. Kembali teori ini membuatku ragu, masak sih iseng banget beliau bikin lagu dengan syair yang “aneh” seperti itu.

 

Atau mungkin saja saat beliau menciptakan lagu itu perdagangan anak (yang benar-benar diperdagangkan atau sekedar disewakan) belum semarak seperti sekarang ini, jadi isi dari lagu itu cuman sekedar dianggap canda biasa, dianggap tidak bermakna luas selain sekedar lagu bermain untuk anak-anak, wallahualam..